0
Home  ›  Hype

Film Animasi Action , Paling Ditunggu Anak Muda Jadul 90an


Belakangan ini, Disney emang lagi gencar-gencarnya merilis ulang film-film animasi klasik mereka ke dalam versi live-action. Mulai dari The Lion King, Aladdin, sampai The Little Mermaid, semuanya sukses dibawa ke dunia nyata dengan sentuhan CGI yang super megah. 

Tren ini jelas bikin banyak fans mulai berandai-andai, "Kira-kira film animasi favoritku yang lain bakal dibikin versi manusianya juga gak, ya?"

Tapi kalau dipikir-pikir pakai logika, gak semua cerita animasi itu ramah untuk ditransfer ke format live-action. Ada beberapa judul yang dunianya terlalu absurd, karakternya terlalu gak masuk akal, atau butuh bujet CGI yang bisa bikin dompet studio jebol seketika.

Bisa dibilang, deretan film ini punya tingkat kesulitan yang mendekati hilal alias mustahil. Yuk, kita bedah 5 film animasi Disney yang hampir mustahil buat diangkat ke versi live-action!

1. Treasure Island (Treasure Planet)

Film yang satu ini sebenarnya adalah salah satu mahakarya underrated Disney yang konsepnya keren banget: petualangan bajak laut tapi di luar angkasa! Kita disuguhkan pemandangan kapal-kapal layar bertenaga surya yang berlayar membelah galaksi, makhluk alien aneh di setiap sudut planet, hingga karakter cyborg rumit seperti John Silver.

Kenapa hampir mustahil? Karena estetika visualnya itu perpaduan yang sangat spesifik antara gaya klasik abad ke-18 dan teknologi masa depan (sci-fi). Kalau dipaksakan ke versi live-action, Disney harus membangun dunia yang 95% isinya adalah CGI tingkat dewa. 
Salah sedikit saja dalam penataan visualnya, film ini malah bakal kelihatan kayak film fiksi ilmiah kelas B yang aneh dan kehilangan keajaiban aslinya.

 2. A Goofy Movie

Secara cerita, kisah perjalanan liburan (road trip) antara Goofy dan anaknya, Max, ini sebenarnya sangat membumi dan penuh pesan emosional tentang hubungan ayah dan anak. Tapi masalah utamanya terletak pada sang karakter utama itu sendiri.

Goofy dan Max adalah karakter antropomorfik—anjing yang berjalan dengan dua kaki, pakai baju manusia, dan punya ekspresi wajah yang komikal banget. 

Kebayang gak kalau ini dibikin live-action? Pilihannya cuma dua: pakai aktor berbaju badut yang bakal kelihatan kuno, atau pakai teknologi CGI ala Sonic the Hedgehog atau Cats yang kalau meleset sedikit justru bakal kelihatan menyeramkan (uncanny valley) bagi penonton anak-anak.

 3. The Emperor's New Groove

Kekuatan utama dari film yang berlatar di kerajaan Inca ini adalah komedinya yang super kocak, cepat, dan penuh adegan slapstik yang sangat "kartun banget". 

Ceritanya tentang Kuzco, kaisar egois yang dikutuk menjadi seekor llama oleh penasihatnya yang jahat, Yzma.

Komedi ekspresif ala kartun 2D di film ini—seperti muka Yzma yang berubah-ubah atau tingkah konyol Kronk—adalah hal yang hampir mustahil ditiru oleh aktor manusia atau hewan CGI di dunia nyata. 

Komedi slapstik yang pas di format animasi sering kali bakal terasa garing, aneh, atau malah terlalu lebay pas dipindahkan ke format live-action.

 4. Atlantis: The Lost Empire

Sama seperti Treasure Planet, Atlantis adalah proyek ambisius Disney yang punya basis penggemar fanatik. 

Film ini menyuguhkan petualangan ala Indiana Jones dengan teknologi kapal selam raksasa, monster laut bertenaga kristal (Leviathan), dan kota bawah laut Atlantis yang megah nan magis.

Alasan utamanya tentu saja soal skala produksi dan bujet. Buat menghidupkan visual monster Leviathan, pertempuran bawah air, dan efek sihir kristal biru Atlantis dengan kualitas yang meyakinkan, Disney butuh bujet yang luar biasa raksasa. 

Risiko finansialnya terlalu besar, apalagi format cerita petualangan serius seperti ini punya rekam jejak yang kurang mulus di tangga box office Disney sebelumnya.

 5. Fantasia / Fantasia 2000

Bisa dibilang ini adalah salah satu karya seni paling murni dari Disney. 

Fantasia bukanlah film dengan alur cerita konvensional, melainkan kompilasi dari berbagai segmen animasi indah yang gerakannya disinkronisasikan sepenuhnya dengan alunan musik klasik simfoni. 

Salah satu segmennya yang paling ikonik adalah Mickey Mouse yang kewalahan menghadapi sapu-sapu sihir yang berjalan sendiri.

Keindahan Fantasia terletak pada kebebasan imajinasi abstrak di dalam animasi tradisional 2D. 

Mulai dari tarian para peri musim, pertempuran dewa kegelapan Chernabog, hingga visualisasi abstrak dari instrumen musik. 

Menghidupkan konsep seni abstrak berbasis musik klasik ini ke format live-action bakal terasa kontradiktif dan berpotensi menghilangkan seluruh esensi magis dan puitis yang dimiliki versi animasinya.

 Catatan

Meskipun teknologi perfilman zaman sekarang sudah makin canggih dan hampir bisa mewujudkan apa saja, ada kalanya kita harus menerima kenyataan kalau beberapa cerita memang dilahirkan untuk tetap tinggal di dunia animasi. 

Kebebasan garis dan warna di lembar animasi punya sihir tersendiri yang gak akan pernah bisa digantikan oleh kamera dunia nyata.

Dari kelima film di atas, menurutmu ada gak yang kira-kira nekat bakal tetap dieksekusi sama Disney dalam beberapa tahun ke depan?
Posting Komentar
Additional JS